Semoga Allah Rob penguasa seluruh jagat memberikan kekuatan & petunjuk kepada kita untuk bisa mengarahkan anak2 kita menjadi anak – anak yang sholeh dan sholehah dimana sebagai investasi masa depan kita di aherat nantinya…amiiin….
Dikutip dari salah satu Judul Buku/Buletin : e-BinaAnak (Edisi 109)
Salam Jihad: Hairudin dari Anjungan Lepas Pantai
Diarsipkan di bawah: Akhlaq, Alqur'an, Anak, Aqidah, Artikel, Do'a dan Zikir, Fiqih, Ghazwul Fikri, Hadist, Hati, Pemuda, Renungan, Rumah Tangga, Siroh, Umum, Wanita | Tag: Add new tag
Dalam sejarah peradaban bangsa, Indonesia pernah menjadi sebuah negara yang besar. pernah menguasai hampir seluruh asia tenggara dan selatan China dengan kerajaan Sri Wijaya dan Mojopahitnya. Dari awal kemerdekaan hingga tahun2 awal sebelum kerisis moneter 1998 M kita juga pernah menjadi sebuah negara yang sangat disegani diantara negara2 serumpun dan tetangga sekitar begitu juga di percaturan dunia International.
Dengan modal luas wilayah, banyaknya pulau2 yang terdiri dari lautan berikut sumber daya alam yang terkandung di dalamnya berpotensi untuk bisa memakmurkan rakyatnya. Aneka tambang dengan Cadangan Minyak dan Gas di terbesar dunia di laut Natuna dan berbagai daerah lainnya, dengan gunung emas yang ada di Irian Jaya, Batu bara di Kalimantan dan Sumatra dan hasil laut dengan berbagai macamnya adalah suatu anugrah yang sangat besar dari Allah SWT.
Namun sayang-disayangkan semua itu telah di rampas oleh segelintir orang-orang kapitalis yang hanya mementingkan diri sendiri, Keluarga dan Kelompoknya saja.
Kemeralatan dan kemiskinan terus menjadi topic pagi di Berita Nasional kita. Kerendahan moral rakyat -penguasa dan lebih parah lagi di acara-acara siaran TV yang tidak sama sekali mendidik rakyat.
Acara-acara TV nasional kita benar-benar sudah mencapai titik terendah NOL tidak ada nilai-nilai luhur tertanam di dalamnya. Acara siraman ruhani bagi rakyat yang biasa nya jam 5 pagi sudah menghilang bergeser ke jam 4 pagi..(siapa yang akan menonton?
Padahal siraman ruhani bagi rakyat ini sangat di perlukan untuk meredam gejolak hati, mengisi kekosongan dan kegersangan jiwa, mendinginkan suasana dengan sentuhan-sentuhan Sabda Rasul dan kalam illahi. Namun di sayangkan semua itu sudah bergeser kearah yang memang di kehendaki sang Penguasa Kecil.
Salah seorang penulis buku terlaris Dunia Stephen R Covey dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective Families (1999) bahwa kebanyakan keluarga akan mengalami kesulitan ketika harus memilah dan memilih siaran TV yang cocok, khususnya bagi keluarga yang memiliki anak-anak dan remaja. Memilih acara TV yang cocok, sama halnya dengan memilih salad yang bercampur-aduk dari tumpukan sampah. Mungkin ada sedikit salad yang enak di sana, tetapi cukup sulit memisahkan sampahnya, kotorannya dan lalat-lalatnya
Mari kita bangkit, kita matikan TV kita yang rendahan itu, Kita ganti dengan siaran yang lebih baik dan bermoral tinggi, VCD atau program yang lebih mendidik sehingga Anak-anak kita menjadi generasi tangguh dalam memimpin bangsa ini kedepannya.
INDONESIA MAYORITAS MUSLIM
Seluruh dunia tahu Umat Islam terbesar di Dunia adalah Indonsia, Semua Negara Kapitalis berkeinginan menjajah negeri ini dengan cara-cara modern. Di mulai dari di beri nya kita modal Utang untuk membangun negeri yang nanti nya Modal itu di korupsi oleh pejabat Negara dan Oleh pihak asing sendiri. Sampai kapan …kita begini terus..?
Kemaksiatan di badan legislative dan Judikative negeri ini dan rakyatnya hampir sampai ke langit yang ke-7. Cuma ada satu cara yang akan meluruskannya. Mungkinkah Hukuman/Ujian Allah akan mampir ke Ibukota Jakarta Raya?
Padahal Negri-negeri lain sudah di percontohkan seperti di Aceh- Tsunami nya, di Yogya-Gempa nya. Mari kita sama-sama menunggu kapan Allah Akan membinasakan Kita semua.
Ketahuilah kehancuran moral ini bukan salah Umat Islam, bukan salah para Da’i. Semua ulama di kalangan Islam telah berusaha memberikan masukan-masukan ke Rakyat untuk menjadi Islam yang syamil yang kafah, Yang berakhlak mulia dan Agung. Lagi-lagi Media TV kita selalu menginformasikan Islam dengan citra Negatif nya. Dengan kebencian yang sampai puncaknya.
Ya begitulah Indonesia kurang hebat, masih harus banyak belajar dari buku-buku bermutu literatur Islamy. Para Wartawan kita masih lemah dalam pemahaman Islam, Belajarlah temukanlah titik perbedaan nya dengan Agama lain..sialakan. Islam terbuka untuk di pelajari…carilah beberapa teman berdiskusi. Pelajari lah Islam dengan para Ulama yang ahli di bidangnya.
Ulama yang baik adalah shalat tepat waktu Dan ada sifat-sifat lain yang luhur yang harus sesuai dengan tututunan Nabi Muhammad saw. Baru lah kita belajar Islam dari sana.
Kami telah meminta pada para penguasa untuk menjalankan Syariat Islam dengan baik bagi pemeluk nya. Namun karena mereka takut akan kena hukuman maka usulan itu di tolak mentah-mentah.
Jadi Jangan salahkan Ulama Islam, Uruslah Negara mu ini sendiri, karena kamu lah yang memberikan pelajaran-pelajaran perusak moral pada rakyat sedikit demi sedikit lewat TV.
Entah lah bagaimana cara nya untuk meluruskan pada orang-orang kapitalis penimbun harta Negara untuk diri nya sendiri dan Keluarga nya. Sedangkan rakyat yang lain pada bunuh diri karena kurang makan. Namun mereka tetap tuli.
Umar bin Khatab r.a setelah menjabat menjadi Amirul Mukmin Berkata “ Jika Rakyat ku kenyang biarlah aku yang terakhir mendapat kekenyangannya itu dan Jika rakyat ku lapar biarlah aku yang pertama merasakan kelaparan itu” dan itu di buktikannya.
Umar bin Khatab r.a pernah juga berpidato di pertama kali nya ketika di lantik menjadi Khalifah ke-2 “ di antara anda semua yang hadir disini siapa yang akan meluruskan aku jika aku menyimpang”….di antara kerumunan orang-orang itu ada anak muda berbicara lantang “Aku yang akan meluruskan kamu wahai Amirul mukminin dengan Pedang ini… “jika kamu menyimpang” Umar tersenyum dan mengucapkan Alhamdulillah masih ada orang yang akan mengoreksi jika menyimpang dari kebenaran.
Umar RA tidak marah dan tidak memenjarakan anak muda tersebut. Bagaimana dengan Indonseia?
Coba Bagaimana dengan Indonesia? Presiden , Gubenur, Bupati, Camat, Lurah, Pak RT????
Anda-anda semua sudah di pilih oleh rakyat, Ikuti kata hati yang paling dalam kalian, Insya Allah tidak akan pernah berdusta, Jangan Korupsi …Jangan Kolusi, Jangan Nepotisme….
Jabatan adalah amanah, dan janji-janji harus ditepati. Seoarang yang meninggal tapi dianya dalam keadaan menghianati rakyatnya kata nabi jangankan masuk mencium baunya surga walaupun surga saja tidak dapat walupun surga itu sudah tercium dari jarak yang sangat jauh
Ingat AZAB Allah akan dating pada ANDA dan kita semua. Kapan dan dimana saja…Menyesal kemudian tiada guna…
Salah seorang Hamba Allah yang daif
Diarsipkan di bawah: Artikel
Ya … seorang mukmin yang meyakini Allah sebagai Tuhannya, juga harus meyakini bahwa Dia pula yang menentukan usia, rezeki, jodoh dan segala ketetapan lain atas dirinya, termasuk datangnya musibah atau kekecewaan. Di sini kita harus belajar bahwa sebagai manusia kita bukan segala-galanya. Bahkan dengan teknologi canggih yang terus berkembang sekalipun tetap ada titik lemahnya. Subhaanallah …
Saudaraku,
Orang bijak berkata bahwa hidup adalah rangkaian ikhtiar demi ikhtiar yang tak selalu berujung dengan kesenangan atau keberhasilan. Karena perjalanan hidup memang tidak selalu mulus, sesuai dengan harapan kita. Hidup itu sendiri merupakan perpindahan dari satu masalah ke masalah lain. Dunia dengan segala godaannya yang memikat hati adalah tempat masalah, tempat iman kita diuji dengan derita atau bahagia, dengan kebaikan atau keburukan, hingga Allah mengetahui siapa yang benar-benar berjihad dan bersabar di jalan-Nya (QS. 47: 31) serta siapa yang terbaik amalnya (QS. 67: 2). Allah pun telah berfirman: “Apakah kamu mengira akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: Bilakah datangnya pertongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. 2: 214)
Yang harus kita yakini adalah Allah tak akan membebani seseorang di luar batas kesanggupannya (QS. 2: 286). Rasulullah saw. pun bersabda: “Seseorang diberi cobaan menurut kadar kekuatan dien yang dimilikinya. Semakin kuat diennya semakin kuat pula cobaannya dan bila diennya melemah, melemah pula cobaannya. Ujian berjalan seiring dengan kadar diennya.” (HR. Bukhari, Ahmad dan Turmudzi)
Saudaraku,
Sebagai manusia biasa, mungkin kita pernah mengalami saat-saat “koma” dalam kehidupan. Saat kita merasa tak kuat lagi menahan beban masalah. Bara semangat di hati kita hampir padam. Kita merasa lemah, lunglai dan lelah menyusuri liku-liku kehidupan yang seolah tak berujung, tanpa ada kepastian. Kita berada di titik kritis dan berharap seseorang akan menarik kita dari keterpurukan. Tetapi … hanya kekecewaan yang kita telan untuk kesekian kalinya. Kita tetap “sendiri” menggapai-gapai “kesepian” di tengah keramaian.
Namun di balik puncak kegentingan, di kala kita merasa sangat tak berdaya dihempas “topan”, biasanya kepasrahan total atau ketergantungan tulus lahir dan diberikan hanya kepada Allah. Pada saat itu pula kita benar-benar merasakan cinta sejati, yakni satu cinta kasih murni yang berasal dari Allah, Penguasa langit, bumi beserta segala isinya. Subhaanallah …
Ibnul Qayyim mengistilahkan keadaan ini dengan kasih sayang batin, yang diberikan kepada hamba-Nya yang melakukan ketaatan. Kasih sayang batin adalah sentuhan perasaan dalam hati seseorang yang mendapat musibah, berupa ketenangan dan ketentraman. Tidak resah dan tidak khawatir. Kata Ibnul Qayyim: “Seorang hamba justru bisa menjadi sangat sibuk merasakan kasih sayang-Nya, saat ia menghadapi penderitaan yang berat. Dia berpikir seperti itu karena yakin bahwa itu adalah pilihan terbaik yang ditetapkan Allah kepadanya.”
Intinya: dengan selalu husnudhan (berprasangka baik) kepada Allah, maka batin kita tetap dapat tersenyum bahagia merasakan limpahan cinta kasih-Nya, walau realita tampak suram dan tak berpihak kepada kita.
Saudaraku,
Ibnu ‘Athailah memberi pengarahan: “Tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dalam ketidakberdayaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan daya dan kekuatan-Nya.“
Pertolongan Allah itu pasti adanya, Saudaraku! Sebagaimana firman-Nya: “Adalah hak bagi Kami menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum:47). Allah pun berjanji untuk mengabulkan do’a setiap muslim, selama tidak mengandung dosa dan memutuskan shilaturrahim. Masalahnya hanya terletak pada proses waktu serta bentuk pertolongan itu. Ada yang sifatnya “cash” (segera dikabulkan sesuai harapan kita), ada yang “delay” (ditunda dan diganti dalam bentuk lain), atau “deposit“’ (menjadi simpanan di akhirat).
Saudaraku,
Kehidupan dunia dengan segala konsekuensinya hanyalah sesuatu yang semu dan belum final. Kesejatian dalam kehidupan hanya dapat dirasakan di akhirat nanti. Di akhiratlah setiap orang akan mendapat balasan yang seadil-adilnya atas segala perbuatannya di dunia dan akan terbukti dengan jelas siapa orang-orang yang mempunyai posisi mulia atau hina-dina di hadapan Allah, Al-Aziizul Hakim. Kesadaran ini akan membuat kita dapat menyikapi realitas kehidupan dunia secara wajar dan proporsional. Tak lupa daratan jika harapan menjadi nyata, juga tidak terlalu berduka atau putus asa bila keinginan tak terwujud. Kita pun dapat tetap tersenyum tulus dalam menjalani hari-hari yang kadang sepahit empedu di bumi Allah yang fana ini. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Barang siapa yang selalu memikirkan akhiratnya, maka Allah akan menjadikan hatinya kaya.” (HR. Turmudzi)
Saudaraku,
Perjalanan hidup di dunia hanyalah sebentar. Tidak akan lama … Semoga kita bisa bertahan, Saudaraku! Bertahan … dan bertahan dalam keimanan hingga selamat di penghujung usia dengan husnul khatimah. Semoga Allah senantiasa mengampuni dan merahmati kita fied dunya wal akhirat. Aamien. Allahumma Aamien.
“Persaudaraan sejati adalah persaudaraan yang tumbuh dari hati ke hati atas dasar ketaqwaan.”
“Ya Allah… Karuniakan kepada kami keberanian serta kemampuan untuk mengubah apa yang bisa diubah, ketabahan dalam menerima apa yang tidak bisa diubah dan kebijakan untuk membedakan keduanya.”
“Ya Allah… Karuniakan kepada kami ketenangan jiwa, yaqin akan saat perjumpaan dengan-Mu dan ridla dengan segala ketentuan-Mu.”
(Do’a Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wassalaam di kutip dari berbagai sumber)
Diarsipkan di bawah: Hati
Kaum Muslimin & Muslimah Rohimakumulloh, dalam hidup kita sering berdo’a dengan do’a sbb: “Ya Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah diriku dalam dien-Mu”.
Begitulah, menjaga kondisi hati untuk senantiasa istiqomah berada di jalan Allah, senantiasa bersih dari segala kotoran dan lembut dari segala kekerasan (hati), tidaklah mudah. Kesibukan dan rutinitas kita yang menguras tenaga dan pikiran, serta interaksi yang terus menerus dengan masalah duniawi, jika tidak diimbangi dengan “makanan-makanan” hati, terkadang membuat hati menjadi keras, kering, lalu mati… Padahal sebagai seorang mukmin, dalam melihat berbagai macam persoalan kehidupan, haruslah dengan mata hati yang jernih.
Untuk itu, beberapa nashehat berikut patut kita renungi dalam upaya melembutkan hati. Kita hendaknya senantiasa:
- Takut akan datangnya maut secara tiba-tiba sebelum kita sempat bertaubat.
- Takut tidak menunaikan hak-hak Allah secara sempurna. Sesungguhnya hak-hak Allah itu pasti diminta pertanggungjawabannya.
- Takut tergelincir dari jalan yang lurus, dan berjalan di atas jalan kemaksiatan dan jalan syaithan.
- Takut memandang remeh atas banyaknya nikmat Allah pada diri kita.
- Takut akan balasan siksa yang segera di dunia, karena maksiat yang kita lakukan.
- Takut mengakhiri hidup dengan su’ul khatimah.
- Takut menghadapi sakaratul maut dan sakitnya sakaratul maut.
- Takut menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di dalam kubur.
- Takut akan adzab dan prahara di alam kubur.
- Takut menghadapi pertanyaan hari kiamat atas dosa besar dan dosa kecil yang kita lakukan.
- Takut melalui titian yang tajam. Sesungguhnya titian itu lebih halus daripada rambut dan lebih tajam dari pedang.
- Takut dijauhkan dari memandang wajah Allah.
- Perlu mengetahui tentang dosa dan aib kita.
- Ma’rifah kita terhadap nikmat Allah yang kita rasakan siang dan malam sedang kita tidak bersyukur.
- Takut tidak diterima amalan-amalan dan ucapan-ucapan kita.
- Takut bahwa Allah tidak akan menolong dan membiarkan kita sendiri.
- Kekhawatiran kita menjadi orang yang tersingkap aibnya pada hari kematian dan pada hari timbangan ditegakkan.
- Hendaknya kita mengembalikan urusan diri kita, anak-anak, keluarga, suami dan harta kepada Allah SWT. Dan jangan kita bersandar dalam memperbaiki urusan ini kecuali pada Allah.
- Sembunyikanlah amal-amal kita dari riya’ ke dalam hati, karena terkadang riya’ itu memasuki hati kita, sedang kita tidak merasakannya. Hasan Al Basri rahimahullah pernah berkata kepada dirinya sendiri. “Berbicaralah engkau wahai diri. Dengan ucapan orang sholeh, yang qanaah lagi ahli ibadah. Dan engkau melaksanakan amal orang fasik dan riya’. Demi Allah, ini bukan sifat orang mukhlis”.
- Jika kita ingin sampai pada derajat ikhlas maka hendaknya akhlak kita seperti akhlak seorang bayi yang tidak peduli orang yang memujinya atau membencinya.
- Hendaknya kita memiliki sifat cemburu ketika larangan-larangan Allah diremehkan.
- Ketahuilah bahwa amal sholeh dengan sedikit dosa jauh lebih disukai Allah daripada amal sholeh yang banyak tetapi dengan dosa yang banyak pula.
- Ingatlah setiap kita sakit bahwa kita telah istirahat dari dunia dan akan menuju akhirat dan akan menemui Allah dengan amalan yang buruk.
- Hendaknya ketakutan pada Allah menjadi jalan kita menuju Allah selama kita sehat.
- Setiap kita mendengar kematian seseorang maka perbanyaklah mengambil pelajaran dan nasihat. Dan jika kita menyaksikan jenazah maka khayalkanlah bahwa kita yang sedang diusung.
- Hati-hatilah menjadi orang yang mengatakan bahwa Allah menjamin rezeki kita sedang hatinya tidak tenteram kecuali sesuatu yang ia kumpul-kumpulkan. Dan menyatakan sesungguhnya akhirat itu lebih baik dari dunia, sedang kita tetap mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak menginfakkannya sedikit pun, dan mengatakan bahwa kita pasti mati padahal dia tidak pernah ingat mati.
- Lihatlah dunia dengan pandangan I’tibar (pelajaran) bukan dengan pandangan mahabbah (kecintaan) kepadanya dan sibuk dengan perhiasannya.
- Ingatlah bahwa kita sangat tidak kuat menghadapi cobaan dunia. Lantas apakah kita sanggup menghadapi panasnya jahannam?
- Di antara akhlak wanita mu’minah adalah menasihati sesama mu’minah.
- Jika kita melihat orang yang lebih besar dari kita, maka muliakanlah dia dan katakana kepadanya, “Anda telah mendahului saya di dalam Islam dan amal sholeh maka dia jauh lebih baik di sisi Allah. Anda keluar ke dunia setelah saya, maka dia lebih baik sedikit dosanya dari saya dan dia lebih baik dari saya di sisi Allah.”
(sumber : 500 Nashihat untuk Muslimah)